TIMES BANJARMASIN, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan ketahanan pangan nasional berada dalam kondisi aman dan terkendali menjelang 2026. Stabilitas pasokan dan harga pangan dinilai terjaga berkat kombinasi produksi dalam negeri yang kuat, distribusi yang relatif lancar, serta pengawasan pasar yang dilakukan secara intensif di seluruh wilayah Indonesia.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengapresiasi para pedagang yang mematuhi ketentuan harga eceran tertinggi (HET). Kepatuhan tersebut dinilai berperan langsung dalam menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi daya beli masyarakat di tengah dinamika konsumsi akhir tahun.
“Kepada saudara-saudara yang sudah menjual komoditas pangan di bawah HET, kami ucapkan terima kasih,” ujar Amran dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.
Meski demikian, Amran menegaskan pemerintah tidak akan ragu mengambil langkah tegas terhadap pihak-pihak yang melanggar aturan di sektor pangan. Penegasan ini didasarkan pada fakta bahwa stok pangan nasional berada dalam kondisi mencukupi, sehingga lonjakan harga, khususnya pada komoditas strategis, tidak memiliki dasar pasokan yang kuat.
Data menunjukkan cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog hingga akhir Desember 2025 mencapai 3,39 juta ton. Angka ini menjadi salah satu level stok tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan berfungsi sebagai bantalan utama stabilisasi harga beras di pasar.
“Saat ini beras dan minyak goreng tidak ada alasan untuk naik karena produksinya banyak. Hal yang sama juga berlaku untuk gula putih, di mana produksi dalam negeri terus meningkat. Jadi, tidak ada alasan harga naik,” kata Amran.
Pemerintah, lanjut dia, terus mengawal stabilitas pasokan dan harga melalui pemantauan harian serta inspeksi lapangan. Pendekatan ini diarahkan untuk mendeteksi potensi gangguan distribusi sejak dini dan mencegah spekulasi harga di tingkat konsumen.
“Mudah-mudahan semua berjalan sesuai harapan dan tidak ada gangguan dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya.
Dari sisi data pasar, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat harga pangan rata-rata nasional di pasar tradisional pada Kamis pagi cenderung melandai. Tren ini mencerminkan proses normalisasi permintaan setelah lonjakan konsumsi selama libur akhir tahun, meski beberapa komoditas masih bertahan di level relatif tinggi.
Untuk komoditas beras, harga kualitas bawah I tercatat sekitar Rp14.700 per kilogram dan kualitas bawah II Rp15.350 per kilogram. Pada segmen menengah, beras medium I berada di kisaran Rp16.350 per kilogram dan medium II Rp16.000 per kilogram. Sementara itu, beras kualitas super I dan II masing-masing tercatat Rp17.250 per kilogram dan Rp16.750 per kilogram.
Pada komoditas hortikultura, khususnya cabai, pergerakan harga menunjukkan variasi. Cabai merah besar tercatat Rp52.200 per kilogram, cabai merah keriting Rp51.550 per kilogram, cabai rawit hijau Rp55.100 per kilogram, dan cabai rawit merah Rp69.850 per kilogram.
Di sektor protein hewani, harga daging ayam ras segar berada di kisaran Rp44.400 per kilogram. Harga telur ayam ras tercatat turun ke level Rp33.500 per kilogram, sementara daging sapi relatif stabil, masing-masing sekitar Rp142.800 per kilogram untuk kualitas I dan Rp134.500 per kilogram untuk kualitas II.
Untuk komoditas lainnya, harga gula pasir kualitas premium tercatat Rp20.550 per kilogram dan gula pasir lokal Rp18.200 per kilogram. Adapun minyak goreng curah berada di level Rp19.450 per liter, sedangkan minyak goreng kemasan bermerek I dan II masing-masing diperdagangkan di kisaran Rp22.700 dan Rp21.350 per liter.
Secara keseluruhan, kombinasi stok yang kuat, produksi domestik yang memadai, serta pengawasan pasar yang konsisten menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Pemerintah menilai kondisi ini memberikan ruang aman bagi masyarakat dalam menghadapi awal 2026 tanpa tekanan signifikan pada harga pangan pokok. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Kementan Pastikan Pasokan Aman Sambut 2026, Stok Beras 3,39 Juta Ton Jadi Penyangga Harga Pangan
| Pewarta | : Imadudin Muhammad |
| Editor | : Imadudin Muhammad |